|
Bangga Dibaca Anak
Arleen Amijaya (33) adalah seorang ibu sekaligus karyawati sebuah perusahaan distribusi. Namun, tampaknya ia lebih dikenal sebagai pengarang buku yang produktif. Maklum, baru 2 tahun menulis, dia sudah menerbitkan 81 buku khusus anak balita berbahasa Inggris, 5 chicklit dan 1 buku parenting. Buku pertamanya diterbitkan oleh Dian Rakyat pertengahan 2005 adalah seri Monty & Kitty. Buku berbahasa Inggris berjumlah 10 seri ini bercerita tentang seekor monyet kecil (Monty) dan seekor kucing kecil (Kitty).”Pada intinya saya menceritakan tentang kehidupan sehari-hari, ” kata wanita yang sejak kecil hingga kini hobi menulis buku harian.
Menulis baginya adalah kebahagiaan jiwa.Dengan menulis pula ia bisa menciptakan karya yang dibaca orang. “Rasanya senang kalau melihat anakku membaca karya-karyaku. Namun yang paling membuatku bahagia, saat Alyssa memperlihatkan buku yang aku tulis ke semua temannya dengan bangga. Momen itu tidak bisa dibayar dengan uang berapa pun,” cerita ibu dari Alyssa Joanna Indrajaya (5,5) dengan mata berbinar.
Papa Monster
Saat menjadi ibu, Arleen mulai melirik untuk menulis buku tentang pengasuhan anak. Judulnya, 101 Fun and Mind Stimulating Things To Do With Your Kids. “Aku merasa Jakarta kurang child friendly. Akibatnya, banyak orangtua bingung dalam menghabiskan weekend bersama anaknya kecuali ke mal. Buku ini bisa menjadi inspirasi kegiatan-kegiatan menarik saat weekend di rumah,” ujar penulis yang memulai membuat cerpen saat duduk di bangku SMA.
Diakuinya, penulisan buku ini terinspirasi oleh sang suami, Richie Indrajaya (39). “Aku termasuk orang yang sangaat….sangaat beruntung, karena suamiku senang bermain dengan anak. Dia itu oke banget. Alyssa sangat enjoy kalau main dengan papanya.Alyssa bisa berpura-pura jadi kakak dan suami jadi adik yangmasih bloon. Terkadang papanya jadi monster. Suamiku enggak jaim (jaga imej-Red) di depan anak istri. Aku saja terkadang larut dalam permainan mereka,” cerita Arleen tentang suaminya yang seorang wiraswastawan ini. “Suamiku harus jatuh bangun mengurus bisnisnya. Tapi secapek apa pun kalau diajak main Alyssa, dia pasti mau,” tambahnya dengan bangga.
Soal profesinya sebagai penulis sekaligus ibu dan istri, Arleen mengaku cukup tahu diri. “Aku usahakan menulis hanya di pagi hari sebelum semuanya bangun. Risikonya memang harus bangun lebih pagi. Tapi risiko ini adalah risiko yang membahagiakan. Aku tetap bisa menulis, tapi Alyssa dan papanya juga senang karena aku tetap mengurus mereka.”
Tentu, waktu yang terbatas jadwal ini kadang membuatnya menulis lebih lama. “Kalau membuat novel bisa lama banget. Makanya aku enggak pakai target. Kalau buku cerita anak dan cerpen bisa lebih cepat karena umumnya pendek-pendek. Tapi aku tetap enjoy kok,” ujarnya.
Meski kondang sebagai pengarang, ibu yang sedang memikirkan untuk punya anak lagi ini mengaku tak ingin memaksa Alyssa mengikuti jejaknya. “Buat aku yang penting Alyssa selalu sehat dan hidupnya bahagia.Dia juga kuharap bisa jadi orang yang dihormati dan tahu mana yang benar mana yang salah.”
Puisi untuk Pembaca nakita
Di akhir perbincangan dengan nakita, Arleen sempat menitipkan puisinya untuk para pembaca tercinta. “Ini tentang motherhood. Sama dengan ibu-ibu lain, aku merasa menjadi ibu memang tidak gampang. Tapi ada kebahagiaan yang enggak bisa ditukar dengan apa pun. Bahagianya menjadi ibu.”
Elegy on Motherhood
I used to be the master of my own time Using it in ways that please my young heart Never with caution for I always had plenty To splurge around everything and even around nothing
I used to be the owner of my very own heart Flaunting it so gaily for there was no burden Each step lightly taken as the road’s flat and smooth To run towards places or even toward nowhere
I used to be the center of my living universe Living it in ways that suit my own style Took it for granted for I knew no other way To have been served by many and also by myself
And then I entered motherhood And now even one second is deemed worth saving For time has become both so precious and scarce With nappies to change and bottles to wash As the sand in the hourglass came pouring down fast
And now even my heart was stolen from me And held in a pair of small tiny hands I was soon enough lost in each look, in each smile I’ve been abruptly imprisoned as a slave of love
And now I have found the center of my new universe A universe so demanding and yet so rewarding A labyrinth of emotions that I have to conquer To serve, to be hurt for love in return
I have traded everything for love And I will gladly do it again. |